BUDAYA K4 DI PENGADILAN AGAMA PURWOKERTO

 

Kata budaya sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu budhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi dengan arti budi atau akal. Sedangkan dalam bahasa Inggris budaya dikenal dengan kata culture yang berasal dari bahasa latin yaitu colore yang berarti mengolah atau mengerjaka. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari.

 

Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya. Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri. "Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang, dan "kepatuhan kolektif" di Tiongkok. Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. (sumber dari id.wikipedia.org)

 

Pengadilan Agama Purwokerto merupakan salah satu satuan kerja yang secara konsisten berupaya melaksanakan makna kata budaya. Dalam hal ini lebih mengarah pada pengertian yang lebih sempit. Terkait tugas pokok dan fungsi Pengadilan Agama, yang merupakan Pengadilan Tingkat Pertama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, kewarisan, wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, serta wakaf dan shadaqah, sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama.

 

Dalam implementasi budaya kerja, segenap pegawai Pengadilan Agama Purwokerto diharapkan senantisasa menerapkan K4. K4 merupakan singkatan dari Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas dan Kerja Tuntas sesuai isi dari amanat Pembina Apel Senin Pagi 27 Juni 2022 di Pengadilan Agama Purwokerto. Adalah beliau bapak Drs. H. Risno selaku salah satu hakim senior di lingkungan Pengadilan Agama Purwokerto yang ditunjuk sebagai Pembina Apel. Dalam amanatnya, beliau menekankan tentang makna semangat budaya K4 dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sehari-hari dalam melayani masyarakat pencari keadilan.

 

Sekali lagi, perjuangan belumlah usai. Semangat budaya Prolantas (progresif, melayani dan menuntaskan) sebagaimana moto Pengadilan Agama Purwokerto tetap harus menggema. Menggema dikantor, dihati segenap pegawai serta diimplementasikan dalam semangat kerja sehari-hari. Maju terus Pengadilan Agama Purwokerto dengan moto Prolantas! Progresif dalam melayani, dan melayani sampai tuntas! (more[one]two)